Kamis, 20 Agustus 2009

Nikmatnya Wanita 43 Tahun

Rasanya aku beruntung lagi sore ini. Seorang wanita setengah baya minta diantarin ke sebuah apotik. Kami menumpang taksi. Dalam perjalanan ia mengaku bernama Mbak Ami. Dia berusia 43 tahun, mengenakan jilbab warna hijau dan berparas manis. Tubuhnya sintal.
Singkat cerita dia membeli obat di apotik dan lanjut kami makan di restoran padang.
Di situ, aku mengagumi bahasa tubuh mbak Ami. Tutur katanya enak didenger.
Dia sudah bersuami. Tapi, suaminya sudah lama tidak kasih nafkah batin. Maklum, usia suami sudah 55 tahun.
"Anak saya sudah 2 loh, udah gede-gede,"akunya terus terang.
Aku makin kagum aja. Sesaat ia berdiri di apotik tadi, aku memandangi pinggulnya yang luar biasa besar, tapi seimbang dengan ukuran pinggangnya.
"Obat buat siapa sih mbak?"
"Ini vitamin aja kok."

Akhirnya, kami keluar dari restoran.
Mbak Ami ngajak aku ke kontrakan temannya. Tapi, temannya baru saja mau keluar rumah.
Karena kami capek, mbak ami putuskan untuk tinggal di rumah itu. Sang teman akan kembali beberapa jam lagi, katanya.
Suasana sepi. Kamu duduk di sofa. Mbak Ami duduk bersender di sofa yang empuk. Sambil senyum, kupandangi wajahnya. Dia pun membalas senyum.
"Capek juga ya?"
"Apanya?"
"Kaki mbak pegel nih,"katanya.
"AKu pijit mau kan?"
"Emang bisa?"
"Bisa...pernah belajar dari bokap."
Kudekati kaki mbak Ami. Disingkapnya baju panjangnya. Tampak betis bunting padi berkulit coklat muda itu. Kupijit lembut. Kupandangi wajahnya. Sebetulnya sih tidak begitu cantik, tapi enak aja dilihat mata. Pijitin ku membuat ia nikmat, sampai matanya agak terpejam.
Aku pindah ke sampingnya.
"Bagian tangannya ya?"
"Iya boleh. kamu pinter juga mijit."
Tangannya lembut kurasa. Begitu lengannya kupijit mbak AMi memandangku dengan tatapan aneh. Aku tetap memijit, hingga ke bagian bahu. Kini, aku semakin merapat ke tubuhnya yang sintal. Lantas, tanganku menuju bagian leher, kusingkap kain penutup kepalanya sedikit. Lehernya yang jenjang terlihat olehku.
"Enak mbak?"
"He hemmmm...ssst..."
Aku melirik ke bagian dadanya. Susah menebak berapa besar ukuran payudaranya, karena baju jilbabnya yang rapat.
Mbak AMi menggelinjang geli, ketika jemariku menari-nari di kulit lehernya yang jenjang itu.
"Udah ya..nanti keterusan... dosa..."
Aku senyum.
"Kita cuma pijit kok, gpp, terusin ya..."
Rayuanku kena juga. Malah sekarang, kupinta lepas tutup kepalanya. Rambutnya panjang sebahu, hitam, menambah daya tarik perempuan yang sudah menopause ini.
Kucium diam-diam.
"rambutnya wangi banget sih mbak."
Mbak Ami menoleh ke arahku.
"Habis keramas tadi,"sahutnya lembut.
Matanya memandangiku dengan sendu. Sepertinya ia sudah mulai larut dengan suasana.
"Kita kok cepat akrab ya mbak,?"
"Iya mbak juga heran. Padahal mbak gak gampang kenalan dengan orang baru."
"Hmm..apa mungkin mbak butuh temen baru...mbak selama ini jenuh."
Dia senyum.
"YA kan, ngaku aja. Aku mau kok jadi temen mbak."
"Tapi nanti ketahuan suamiku gimana?"
"tenang aja mbak, kita tetap rahasiain aja. PAling temen mbak doang yang tahu."
Mbak Ami mengatur siasat. Nanti kalo temannya pulang, bilang aja kalo aku tuh adik sepupunya.

Kuraih telapak tangan kanan mbak Ami dan kukecup lembut. Dia sempat kaget dengan aksi romantisku. Lalu kuminta dia menggeser pantatnya agar miring membelakangiku.
"Sekarang kita sambil ngobrol deh. Curhat aja. Kita kan dah jadi temen?"
Mbak Ami setuju ideku. Tapi dia gak sadar dalam posisi miring seperti itu, pantatnya yang besar itu sedikit menyentuh bagian selangkanganku.
Mbak Ami bercerita tentang rumah tangganya. Sang suami sudah 2 tahun tidak lagi berhubungan suami istri. Selain tua, sang suami juga sudah mengidap penyakit berat.
Nada suaranya sendu dan sedih.
"Aku makluk kok mbak. Mbak pasti merasa sepi."
Dia menoleh ke arahku. Matanya tampak berlinang.
"Mbak jangan sedih, Ari kan udah jadi temen mbak sekrang."
Kepala mbak Ami kutarik pelan agar menyender ke bahuku. Dengan lembut kuelus-elus rambutnya. Lalu, kucuri ciuman ke keningnya. Mbak Ami kaget sesaat, tapi ia tak marah.
"Mbak, geser dikit. Ari mau duduk agak belakang lagi."
Mbak Ami menggeser ke depan. Aku duduk di belakangnya. Lalu kutarik tubuhnya agar lebih rapat ke arahku. Posisi pantatnya menjepit penisku.
"Mbak, kejepit nih..."
Mbak Ami cepat menoleh. Pantatnya kusentuh, kudorong ke depan sedikit.
"sakit gak?"
"Gak sih, cuma kaget aja tadi kena pantat mbak yang besar."
Mbak Ami senyum ke arahku.
"Kok bisa gede gini mbak pantatnya,"
"Ya namanya juga dah ibu-ibu."
Tapi ibu yang montok, bisikku dalam hati.
"Tapi mbak tetap cantik kok. Rahasianya apa?"
"Ah masa sih? Udah tua tau."
Dari belakang ia kupeluk. Tangan melingkar di dadanya. Kedua tangannya mendekap tanganku erat.
Mulai terasa dadanya di tanganku. Tapi, aku jangan buru-buru.
Kuciumi rambutnya, terus ke bagian bahunya dari belakang. Aroma parfum merangsang naluriku.
Mbak Ami mulai bereaksi. Tangannya mulai mencengkram keras tanganku. Ia mendesis geli. Tekanan tangannya membuat tekanan tanganku di dadanya makin terasa.
Kujilati leher sisi samping, membuat ia memiringkan kepala.
"ohhhkkkk..sssyyyttt...."desahnya lembut.
Ia menjambak rambutku. Posisi ini membuat aku lebih enak meraba-raba dadanya yang empuk.
"Arrriiii...mbak ggellliii..."
"Iya sayang...enak kan..."
Aku menggeser ke samping agar bisa menghadap wajahnya. Sentuhan pada dadanya membuat aku horny. Aku merasa dadanya besar, tapi seberapa besar. Bibir mbak Ami yang dipoles lipstik tipis kulumat lembut. Ia membalas dengan mesra.
Aku menjilati lehernya dari arah depan. Posisi ini membuat mbak Ami menengadahkan kepala, membiarkan setiap inci lehernya kuciumi.
"AAaaarriiii...ouhhkkkkk...sstttt..."
Rintihan kecil mbak Ami membuatku semakin bernafsu. Kuminta ia melepas baju panjangnya.
Rasa penasaranku hilang sudah. Tapi, siapa sangka, ukuran dada mbak Ami luar biasa besar. Itu terlihat dari BH biru berenda tanpa cup itu menampung isi yang besar.
"Mbak, gede banget dadanya..."
Ia cuma senyum tipis. Tanpa berlama-lama mbak Ami menarik wajahku dan melumat bibirku. Sementara aku mulai meremas-remas bh dan isinya dengan gemas. Betapa kenyal dan padat.
Ciuman mbak AMi semakin liar, sesekali ia menjambak rambutku hingga akhirnya ia membenamkan wajahku di belahan dadanya yang indah itu. Hmmm...ini adegan yang aku suka. Dia telah memintaku untuk lebih agresif. Wangi payudaranya merangsangku. Kuciumi daging kenyal yang setengah menyeruak keluar dari bh nya. BH nyapun kijilati sesuka hati. Mbak Ami memandangiku dengan bahagia. Dia membantuku melepas salah satu bh sebelah kiri, mengeluarkan putingnya.
Aku melumat puting coklat tua itu. Urat-urat halus di permukaan payudaranya indah sekali. Betapa nikmat puting itu. Kujilati, kuhisap dan kugigit kecil.
Mbak Ami merintih-rintih.
IA berdiri, kulepas tali bhnya dari belakang.
Sepasang buah dada besar itu bergelayutan, memanjang dengan bentuk yang indah. Aku remas sambil kupeluk ia dari belakang. Batang penisku menyentuh pantatnya yang masih terbalut rok panjang.
Betapa padat pantat mbak Ami, aku kagum sekali. SAmbil kremas-remas gemas payudara perempuan setengah baya itu, kutelusuri tengkuknya dari arah belakang. Ia mengangkat wajahnya. Di depan kami ada cermin besar, sehingga dapat kulihat kedua matanya terpejam.
"Hmmm...teteknya enak bangettt, mbak sayang..."pujiku.
Tak ada jawaban apa-apa. Mungkin karena mbak Ami sedang menikmati sentuhan-sentuhanku.
Kutekan lagi penisku ke pantatnya. Mbak Ami merasakan ini. Dia menoleh ke arahku.
"Apaan itu keras banget di belakang?"
Aku senyum mendengar candaannya.
Mbak Ami meraba-raba selangkanganku. Meski masih dibungkus cd dan celana jins, tapi sudah terasa keras.
Dia berjalan ke arah sofa. Di sana, ia meraba-raba penisku. Restletingku dibuka, lalu benda padat keras milikku dikeluarkan dari dalam cd miniku.
"Uffggg...gede banget Aaarrii..."pekik mbak Ami.
"MAsa sih? Emang segini gede mbak?"
AKu sendiri gak pede dengan ukuran penisku. Menurutku biasa aja.
"Iya ini mah gede...liatin ini...panjang...kepala penisnya gede banget..."
Aku tersanjung dipuji begitu. Menurut mbak Ami, ukuran penisku lebih panjang daripada suaminya.
Tangan lentik mbak Ami mengelus-elus batang penisku. Aku semakin hornyi. Aku segera menarik tubuhnya yang telanjang dada ke sofa. Kulepas rok panjangnya. Tampak cd warna biru muda ukuran mini ketat membalut bagian intimnya.
Kupandangi bagian vaginanya yang kelihatan menonjol besar banget.
Kusentuh dengan jariku. Mbak Ami melotot melihat aksiku. Tapi aku belum ingin bermain-main dengan itu. Aku bersender di sampingnya. Kami berpagutan lagi. Kedua payudaranya gantian kuremas-remas. Puting-putingnya kuraba-raba dengan jari.
"Arrii..kamu seneng banget payudara mbak ya?"
"Iya mbak...gede banget...blom pernah dapat tetek segede ini...ukuran berapa bh nya mbak?"
"38B"
Oh may god...super banget!
"Susuin Arie mbak.."pintaku.
Mbak Ami mengangkat sepasang payudaranya dan mengarahkan puting-putingnya ke arah mulutku. Aku menyambutnya dengan senang. Gantian puting2 itu kuemut-emut dengan nikmat.
Tangan mbak Ami menggenggam penisku erat2. Sesekali dikocoknya pelan. Kadang batangku ditariknya ke atas. Makin keras saja penisku dibuatnya.
"Sudah mas, kamu netek terus sih..."
Mbak Ami mengaku menikmati permainanku di payudaranya. Suaminya tidak begitu suka begitu, karena suaminya gak suka ukuran yang wah.
Lanjut ke permainan berikutnya. Aku menciumi gundukan vagina yang terbungkus cd biru itu. Mbak Ami kontan kegelian. Dijambaknya rambutku. PAdahal itu baru permulaan. Sensitif sekali dia.
Bau khas tercium hidungku. Pelan-pelan kusibak cd ketat itu. Wow...vagina besar itu tanpa bulu sehelai pun. Warnanya merah segar. Heran, sudah setengah baya, tapi masih seger gitu.
Mbak Ami masih menunggu aksi berikutnya. Lidahku menjulur ke bagian vaginanya. Dia menjerit kaget. Gila, rambutku direnggut keras.
Aroma vagina mbak Ami wangi. Malah jadi nafsu dibuatnya. YA udah, lidahku menerobos ke dalam liang vaginanya yang agak sempit itu. Biji klentitnya kuemut-emut.

"Auugghhhhh....aaarrrriieee....ssssssssstttttttt!!!!"
Mbak Ami menjerit kenikmatan. Dengan gemas ia meremas-remas sendiri buah dadanya yang makin keras dan membesar itu.
Beberapa kali pantatnya terangkat setiap klentitnya kuemut-emut.
Dengan suara bergetar dia memuji aksiku.
"Mbak belum pernah digituin sama suami seumur-umur...ohhhh...enakkk bangettt sayanggg..."
Aku berdiri di hadapan mbak Ami. Penisku yang lurus keras mengarah ke wajahnya. Dia mengocoknya beberapa kali, lalu...
Bibirnya sudah mengulum kepala penisku. Nikmatttt....
Karena pengalaman tentu saja ia tahu beraksi yang enak.
Penisku semakin panjang.
Mbak Ami sempat becanda dengan mengukur-ukur. Lucu juga gayanya.
"Ya, ampun ini kok panjang banget sih..."
"Mbak suka?"
"SUka banget..."
Penisku dijepitnya di tengah buah dadanya. Digosok-gosok naik turun. Limabelas menit berlalu.
"Kok belum keluar juga mas?"
Mbak Ami bingung, karena dulu suaminya digituin sudah muncrat.
Aku senyum ke arahnya. Kami kemudian berpelukan di sofa yang ukurannya cukup lapang itu.
Mbak Ami tak bosan-bosan mengocok2 penisku. Sementara aku tak bosan menetek terus.
Akhirnya, mbak Ami minta dimasukin. Dia setengah tidur bersandar di sofa. Kakinya kulebarkan. Vaginanya menguak lebar. Sejenak sempat kujilati sebelum kepala penisku menerobos masuk.
Mbak Ami merintih sakit. Kutekan sedalam-dalamnya. Makin keras dan cepat.
"Sssstttt....oouuhhhghhh.....wawowaowowwaww..."
Bibir mbak Ami meracau gak menentu. Setiap hentakan membuatnya meronta-ronta.
Kudekati wajahnya sambil tetap menggoyang vaginanya.
"NGgg...enakk sayannggg...."
Dia mangut-manggut.
Kumiringkan tubuhnya. Posisi menyamping, penisku terobos vaginanya. Pantatnya yang besar jadi begitu empuk dan kenyal.
Mbak Ami berulang kali menoleh ke arahku setiap hentakan keras yang kulakukan.
Tentu saja ini membuatnya semakin kagum pada aksiku.
Setengah jam penisku masih perkasa.
Lalu, dia kusuruh nungging. Pantat besarnya membuat aku kewalahan. Kujilati dari berbagai arah. Jujur, belum pernah kulihat ukuran sebesar dan bulat ini.
Dengan sedikit susah, kumasukkan penisku ke dalam vaginanya.
Mbak AMi menoleh ke arahku.
"ssssttt,"desisnya.
Kukocok berulang-ulang ke vaginanya. Semakin cepat, membuat mbak AMi menjerit-jerit. Untung suaranya tidak terdengar sampe keluar.
Buah dadanya berguncang keras. Kuraih dengan tanganku sambil tetap menggoyang pantatnya. Enak banget...kenyal. Vaginanya kering...
sepuluh menit, mbak Ami mengulum penisku. Lanjut lagi. Kali ini, ia agak merendahkan pantatnya. Posisi sulit ini, bisa kujalani dengan sempurna. malah, di posisi ini mbak Ami kewalahan.
Total 11/2 jam penetrasi vagina mbak Ami selesai.
Keringatnya basah di tubuhnya yang montok itu.
IA tak percaya spema ku juga belum keluar.
"Sayangg...gimana kok belum keluar juga...hebat banget sih..."
Kupinta ia mengulum dan mengocok sampe keluar sperma. Mbak Ami mengaku belum pernah melakukan itu.







5 komentar: